jenis dan fungsi media informasi dalam perpustakaan


Manfaat Teknologi Informasi Bagi Perpustakaan
Perkembangan teknologi informasi juga sangat berpengaruh terhadap lembaga-lembaga yang erat kaitannya dengan informasi seperti perpustakaan/ pusat informasi. “Perubahan yang sangat cepat pada teknologi informasi membuatperpustakaan melakukan semacam rekayasa radikal (reengineering) terhadap paradigmanya, maka muncullah paradigma baru yaitu orientasi kepada pemakai.“ (Pendit dan Sulistyo Basuki dalam Wicaksono, 2001)
Manfaat teknologi informasi bagi perpustakaan seperti yang dikemukakan oleh Handerson (dalam Basuki, 1998) adalah :
a)      Menyediakan akses informasi yang cepat dan mudah.
b)      Menyediakan akses jarak jauh bagi pengguna.
c)      Menyediakan akses 24 jam, jika servernya beroperasi 24 jam.
d)      Menyediakan informasi mutakhir.
e)      Menyediakan informasi yang dapat digunakan dengan luwes bagi pengguna      dengan kebutuhannya.
f)        Meningkatkan keluwesan.
g)      Memudahkan format ulang dan kombinasi data dari berbagai sumber.
Selain itu, teknologi informasi bermanfaat untuk membentukjaringan perpustakaan yang menghubungkan satu perpustakaan dengan yang lain (melalui intranet atau internet). Yang diatur dan disusun menurut berbagai bentuk persetujuan, yang memungkinkan komunikasi dan pengiriman secara terus menerus informasi bibliografis maupun informasi lainnya, baik berupa bahan dokumentasi maupun ilmiah. Selain itu,jaringan perpustakaan juga menyangkut pertukaran keahlian, menurut jenis dan tingkat yang telah disepakati. Jaringan ini biasanya berbentuk organisasi formal, terdiri atas dua perpustakaan atau lebih, dengan tujuan yang sama.
Disisi lain teknologi informasi juga memberikan kemudahan bagipengelola informasi (pustakawan) untuk mengolah, menyimpan danmenyebarkannya, juga membebaskan staf perpustakaan dari pekerjaan-pekerjaan yang bersifat rutin secara manual. Selain itu, teknologi informasi juga menjadi sarana membangun perpustakaan elektronik yang kehadirannya tidak bias dihindari dan untukmembangun perpustakaan yang ideal.

Dalam model komunikasi yang dikemukakan oleh Claude E Shannon dan Warren Weaver (1949), proses komunikasi dimulai dari mengirim pesan (sender) yang memiliki keinginan untuk mengomunikasikan pesan atau komunikasi kepada penerima pesan (receiver). Pengirim pesan dalam hal ini bisa berupa seorang penulis buku, atau seorang yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu. Sebelum mengkomunikasikan informasi dan pengetahuan, pengirim harus terlebih dahulu mendesain (merancang ) informasi dan pengetahuan tersebut agar menjadi sistemik dan dapat dengan mudah dipahami oleh penerima. Proses merancang pesan menjadi sistemik ini dinamakan dengan istilah encoding.

            Setelah melakukan encoding, pesan atau informasi ditransmisikan melalui medium tertentu yang telah dipilih sebelumnya. Setelah menerima pesan, maka receiver akan berusaha memahami pesan atau informasi yang telah diterimanya. Proses untuk memahami isi pesan dan informasi oleh penerima pesan dinamakan decoding. Media berperan sebagai perantara bagi pengirim dan penerima pesan dalam proses pertukaran pesan dan informasi.





sumber;Alevea:ARTIKEL. alex agung

Komentar